(Sekadar?) Impian mengurangi Jumlah Para Pengamen dan anak-anak jalanan
Sumbangsih untuk Negeri? Kedengarannya muluk-muluk ya? Tapi itu bukan sesuatu yang mustahil untuk dilakukan. Kita bisa melakukannya dimulai dengan yang ada di sekitar kita.
Sebagai Penulis yang juga suka mengamen di jalanan, saya mempunyai cita-cita besar untuk mengangkat nasib anak-anak jalanan dan teman-teman Pengamen yang selama ini dikucilkan, dipandang sebelah mata bahkan lebih dari itu; dianggap sebagai lalat-lalat pengganggu oleh kaum mayoritas.
Saya berani berbicara seperti ini bukan hanya asal bicara. Karena saya memang terjun langsung, mengalami dan merasakan serta telah menjadi bagian dari mereka selama kurang lebih 3 tahun.
Apa yang dikatakan orang bahwa kehidupan anak-anak jalanan itu dekat dengan kekerasan, premanisme, sex bebas, kriminalitas dan drugs adalah sesuatu yang cukup benar adanya. Namun, alasan-alasan yang menjadi penyebabnya juga perlu kita perhatikan dan pertimbangkan.
Faktor pengangguran, pendidikan dan kemiskinan adalah faktor utama yang menjadi penyebab banyaknya anak-anak jalanan dan pengamen.
Saya sudah pernah mengalami suka dukanya mengamen di Perempatan atau stopan dari angkot ke angkot, mobil ke mobil, menghirup asap polutan hampir setiap hari, menahan panas dan gersangnya hawa siang atau dinginnya udara malam, juga bagaimana ‘menebalkan muka’ saat meminta uang recehan dengan tatapan-tatapan sinis orang-orang. Kadang harus berurusan dengan Kantib yang suka melakukan operasi atau razia dadakan, plus harus bersabar menerima kebijakan Petugas yang sering melarang Para Pengamen mencari uang di sekitar perempatan tanpa mempedulikan efek sampingnya atau mencari solusi untuk menyiasati konsistensi itu.
Hal-hal sepele seperti rebutan ‘lapak’ dan atau sumbangan dari para dermawan kadang menimbulkan pertengkaran dan perkelahian sesama teman.
Almarhum Harry Roesly yang telah membuat Sanggar ‘Rumah Musik Harry Roesly’ telah menginspirasi saya untuk melakukan hal-hal besar yang bukan mustahil untuk diwujudkan, namun perlu kerjasama dan dukungan pula dari elemen-elemen lain seperti para dermawan, sukrelawan dan paling penting; Pemerintah!
Angan-angan yang juga impian saya itu, jika terwujud di satu kota saja maka akan mengurangi jumlah kemiskinan, pengangguran, angka kemiskinan dan juga cukup berpengaruh pada stabilitas keamanan dan ketertiban Lalu Lintas.
Di bawah ini adalah beberapa cita-cita saya itu;
1. membuat sanggar seni untuk para pengamen, anak-anak jalanan dan peminta-minta dengan sebuah program yang didukung secara moril dan materil oleh Pemerintah
2. Membuat sebuah management dan Production House yang semua komponennya adalah para pengamen.
Yang pertama mungkin lebih realistis, jadi saya ingin memulainya dari tempat saya mengamen yaitu di sekitar Perempatan Tol Pasteur-Bandung.
Anak-anak jalanan dan teman-teman pengamen di tempat itulah orang-orang pertama yang ingin saya bantu untuk memperbaiki nasibnya agar menjadi lebih baik dan ‘terangkat’ dari jalanan.
Tak jauh dari Perempatan Tol Pasteur, ada sebuah bangunan tak terpakai yang yang bisa disewa (bahkan dibeli) untuk dijadikan Sanggar penampunagn anak-anak jalanan Perempatan Tol Pasteur. Tempatnya berada tepat di sebelah dan sisi-sisi bangunan milik Pemerintah bernama Badan PPPGL. Ada beberapa bangunan sewaan yang mungkin bisa dibeli Pemerintah untuk dimanfaatkan sebagai Sanggar Penampungan tadi.

Program Sanggar Seni
1. Sanggar Seni Lukis
Saya pernah mendengar dari seorang teman Pengamen tentang sebuah Yayasan, dimana anak-anak jalanan dilatih, diberi ilmu dan tata cara membuat sebuah karya seni lukis yang kemudian akan dipamerkan dalam suatu acara seni dan budaya tertentu. Dan setiap kehadiran anak-anak jalanan yang dilatih itu dibayar dengan nominal tertentu yang dananya didapatkan dari Pemerintah dan dari hasil Karya-karya Pameran Seni yang terjual termasuk donasi dari para donatur. Cara seperti itu cukup bagus untuk dikembangkan lebih baik lagi yang berguna untuk mengurangi jumlah anak-anak jalanan dan gepeng (gelandangan dan pengemis)
2. Sanggar Seni Musik
Untuk sanggar musik ini, saya terinspirasi ketika melihat cara kerja Almarhum
Harry Roesly, bagaimana menampung dan mendidik anak-anak jalanan hingga menjadi musisi-musisi yang tidak selalu sering tergantung mencari uang di jalan tapi dibiayai dari hasil konser dan pementasan musik anak-anak jalanan hasil didikan para seniman berpengalaman.
3. Sanggar Seni Rupa
Ada seorang mahasiswa jurusan Seni yang memberikan beberapa Teman Pengamen sebuah modal dan Pekerjaan namun bukan dalam bentuk uang. Setidaknya uang bukanlah modal awalnya. Dia memberikan cara-cara tentang membuat sebuah perahu / kapal layer dari bahan mentah kayu jati. Mahasiswa itu hanya memberikan ilmu dan bahan-bahan mentah yang diperlukan. Teman-teman hanya mengerjakannya dan mendapatkan imbalan dari hasil penjualan karya seni rupa itu. Pemasaran dan penjualannya dilakukan si Mahasiswa tadi. Ia menjualnya ke Mall-mall dan outlet-outlet karya seni, pernak-pernik atau toko mainan dan hasilnya dibagi dengan persentase tertentu. Sayangnya pembagian penghasilan yang didapat itu tidak cukup transparan. Mungkin jika diatur dan didanai oleh Pemerintah dengan program yang terstruktur serta mendetail dengan kapasitas yang lebih besar, maka jumlah anak-anak jalanan, pengamen dan pengangguran bisa ditekan.
4. Managemen Para Pengamen
Ini ide yang mungkin paling sulit diwujudkan karena menyagkut dengan hobi dan cita-cita pribadi saya:P. Ya, ini bisa dibilang agak narsis juga sih. Namun, paling bisa saya lakukan, bahkan sedang saya lakukan! Saya membuat sebuah Band yang yang seluruh personilnya Para Pengamen jalanan Pasteur. Nama Bandnya PARAMETEUR. Tapi jangan salah, meskipun mereka anak-anak jalanan, skill dan kemampuan yang kami miliki tidak bisa dianggap remeh atau kacangan. Saat ini, Band yang sedang saya rintis ini baru mengudara di beberapa radio Cimahi. Teman-teman yang tidak termasuk personil mendukung dengan kesediannya menjadi kru. Hal itulah yang menjadi dasar pemikiran saya untuk bisa membuat sebuah Band dan management yang semua elementnya para Pengamen.
5. Teman-teman Pengamen yang memulai ‘jam kerja’nya dari malam hingga fajar di
Perempatan tol Pasteur itu memiliki ‘nilai jual’ yang sungguh luar biasa. Karena sangat jarang terkena sinar matahari, wajah dan kulit mereka putih dan bersih bahkan cenderung terlihat pucat pasi. Wajar saja sebab saat siang hingga sore, dimana orang-orang kebanyakan beraktifitas dan bekerja, mereka justru tidur. Namun hal itu pula yang malah menjadi sebuah daya tarik sebagai sesuatu yang bisa dijual. Mereka ini bisa saja didaulat menjadi foto model, jika memungkinkan; artis! Nah, salah satu dari banyak keinginan saya adalah ingin memakai mereka sebagai model video klip. Jadi, dari artis atau Band, model video klip, kameramen, kru, semuanya tergabung dalam Rumah Produksi yang semuanya itu Pengamen!







weits, seru and panjang neh artikelnya, setuju dengan semua yang ditulis…..
Mantap gan! Teruslah berjuang.
@ Babegue; Thanx banget. tapi artikel ini sebenernya udah diedit-edit dan dikurangin. So… menurutku pribadi artikel ini malah terlalu pendek!
@ Syauqi; PASTI brow. Ini salah satu cita-cita terbesarku!
Saya yang sebagai calon Pekerja Sosial ini patut belajar banyak Maz masalah pengamen dan anak jalanan ini..
Semoga kita bisa mencari jalan keluarnya bersama..
Hohoho..Salam kenal Maz..Silahkan kunjungi BLOG saya juga yaw…Dan jangan lupa berkomentar OK..
Salam hangat dari Bocahbancar yang sekarang berdomisili di Bandung juga..
Tulisan terbaru saya bisa dilihat di sini
http://bocahbancar.wordpress.com/2009/01/25/menghapus-budaya-kkn-dimulai-dari-diri-sendiri/
Ayo semangatz…
Makasih Bocahbancar… Saya juga lagi belajar dan mencari solusinya,juga sedikit-demi sedikit melakukan hal-hal kecil yang bisa dilakukan. Misalnya seperti memberikan pakaian-pakaian bekas yang tidak terpakai. Percaya nggak, ada begitu banyak teman yang memakai celana atau baju yang itu-itu terus selama berbulan-bulan? Ya, memang begitulah kenyataannya. Mungkin udah sering liat juga kan di Televisi.
keren bro…
SUKSES YA..
Yup !
Thanx Brow. Emang keren apanya ya? Tapi… perjuangan ini gak bisa dikerjain sendiri, memerlukan banyak dukungan dan partisipan terutama Pemerintah.
Salut deh… Kalo tidak kita mulai sekarang, dari diri sendiri… Kapan lagi??
I always agree with social campagne. Apapun bentuknya.
Dan saya juga setuju bahwa memang harus ada yang dilakukan untuk mengurangi jumlah anak-anak jalanan. Menyoal konsep penanggulangan, berupa sanggar kreativitas, konser amal persembahan anak jalanan, pelatihan keterampilan seni, dan lain-lain, banyak yang sudah terpikirkan.
Percaya atau tidak, itu juga menjadi cita-cita saya. Pertengahan tahun yang lalu, saya merangkai sebuah konsep acara yang pemeran utama pelaksanaannya adalah para anak jalanan. Memang belum terlaksana, namun suatu saat, pasti terjadi!
Masalahnya sekarang, kontribusi yang diharapkan dari elemen-elemen yang saling bertanggung jawab atas hal ini sungguh sangat besar. Niat, kemauan, dan komitmen untuk menanggulangi masalah ini adalah kunci utamanya.
Jadi, memang benar, kita harus bergerak. Dan dengan segera!
Siapapun Anda, ayo, kita lakukan perbaikan, sekarang!
Hai Nisa ‘kurakurakeraskepala’ ya? ini gue Ceko yang punya blog ‘Sang Pengamen Cinta’ di MP. seneng banget rasanya kalo ada otrang yang memiliki keinginan dan niat baik yang sama. memang bener sih, enggak mudah buat ngewujudinnya sendiri, perlu dibantu dengan elemen-elemen lain terutama Pemerintah. tapi banyak hal kecil yang bisa kita lakukan sedikit-sedikit secara individu yang semoga bisa menggerakan hati orang lain hingga mau mencontoh perbuatan dan niat baik kita.
nice posting…
Bertolak sari itu semua, Anda bisa mewujudkan impian dengan membaca tips yang ada dalam artikel blog saya…
masrobertk, URLnya enggak valid, saya gak bisa ngeklik link nama masrobertk dan linknya gak bisa di klik. jadi, saya nggak bisa liat artikel blog saya. Dan saya sangat penasaran dengan artikel masrobertk. Btw, terima kasih komen ‘Nice Posting’-nya membuat saya jadi PD kalo tulisan dan ide saya bisa diperhitungkan. Begitu bukan?:P
semoga bisa terlaksana cita-citanya…..amin!
Amiiiin… Semoga. Insya Allah.
Sukses ya…
wah ini seperti yang saya impikan
Benarkah maspri? alhamdulillah, berarti masih banyak bloger yang peduli seperti kita. Salam hangat…:-)
salute.. cerita yg bagus, andai semua dapat tereaslisasikan dengan baik..
(mode: berpikir)
Amiin…
Sayang ini bukan sekadar cerita, tapi cita-cita yang masih bisa untuk menjadi nyata;-)
Wajah Negeri ini…
Maksudnya?
Kurang ngerti nich gue…:?
salam kenal.
Salam kenal balik derai…
Apa tulisanku bener-bener garing sampe bikin kamu ngantuk ya Michan?
,,salam kenal buat smua tman yang ikut gabung,,,