Pengamen Cinta Go Blog

Blognya Penulis merangkap Musisi Jalanan

(PR)EMANSIPASI

Kalo anda orang Bandung yang sering lewat perempatan tol Pasteur dengan memakai kendaraan mobil pribadi, motor ataupun angkutan umum apalagi kalo malem-malem, pasti suka ngelihat ada beberapa anak perempuan seumuran SMP bahkan SD, juga balita ataupun yang sudah cukup berumur sedang mengamen di stopan dengan menenteng gitar di tangan. Atau sekedar tepuk-tepuk tangan sambil nyanyi. Baik solo, duet atau (maksimal) trio!

Saya bisa sebut beberapa nama ABG, adik-adik pengamen yang sepantaran SMP-SMA seperti Mae, Ani, Yuli. Gadis-gadis kecil seumuran SD-nya ada yang bernama Chi-chi, Bogem dan Bola (beberapa di antaranya hanya nama panggilan). Dan yang sering ngamen tengah malam sampe subuh adalah salah satu sahabat dekat saya bernama Norma (yang juga vocalist band saya) yang suka ngamen bersama Bonir, suaminya (yang juga sahabat saya).

Ada juga Teh Isop yang suka ngamen sama dua anak dan suaminya Shandy (sahabat dekat saya juga). Teh Isop adalah Ibu dari 3 anak yang bisa dianggap salah satu ‘sesepuh’ (agak hiperbolis memang. Dalam bahasa sastra-nya disebut LEBAY! ). Saya punya beberapa daftar nama anak para Pengamen perempuan yang sepertinya tidak terlalu perlu untuk disebutkan karena ini hanya sebagai gambaran saja.

Gambaran bahwa emansipasi itu enggak melulu soal ‘Hak Ekslusif’ yang ingin didapatkan banyak perempuan. Karena emansipasi dalam kaum minoritas di sekitar saya ini justru sangat tidak diinginkan!

Bahwa kesetaraan gender yang selalu ingin diperjuangkan itu ada pula yang tidak pantas disandang oleh si Objek pelakunya sendiri; kaum kartini. Kalau boleh saya sebut, tanpa mengutip dan mengambil apalagi memplagiat (sangat anti!), yang sedang saya bicarakan ini adalah (PR)EMANSIPASI!!

Sebuah PR kita semua yang perlu melihat emansipasi dari sudut pandang yang berbeda.

Jika mendengar kata ‘Emansipasi’, tentu yang langsung terpikir oleh kita adalah sesosok pahlawan Perempuan Indonesia bernama R.A Kartini.

Kiprah R.A Kartini sudah sangat cukup berpengaruh memperjuangkan hak-hak perempuan yang tidak ingin lagi dimarginalkan. Dan hasilnya bisa kita lihat sekarang, banyak perempuan yang bisa bekerja, berprofesi dan berpendidikan tinggi yang dulu hanya didominasi kaum lelaki. Bahkan sepertinya keadaan seperti berbalik (mungkin), ketika saya melihat Petugas POM Bensin didominasi kaum perempuan!

Sekarang kita kembali ke topik utama. Saya ingin sedikit bertanya dan boleh dijawab hanya dalam hati saja. Karena ini juga pertanyaan untuk saya sendiri.

“Apa pantas kaum perempuan menjadi Pengamen Jalanan yang didominasi kaum pria?”
Dan karena kita sudah tau jawabannya of the record, maka pertanyaan berikutnya adalah ‘Bagaimana cara menanggulanginya?’

Sudah sejak lama fenomena tentang menjamurnya anak-anak jalanan dan para pengamen menjadi sebuah Pr yang (sepertinya) tak pernah diseriusi Pemerintah. Karena ini memang bukan pekerjaan mudah. Seingat saya, ketika saya melihat Pengamen perempuan, dulu cukup langka dan membuat kita sedikit mengernyitkan kening. Tapi hal itu lama-lama menjadi sebuah objek pemandangan yang bisa. Pengamen Perempuan adalah kaum minoritas-nya kaum minoritas!

PR kita bukan memperjuangkan emansipasi dan memikirkan cara agar Pengamen Perempuan kuantitasnya bertambah banyak hingga bisa disebut ‘setara’, tapi justru sama sekali adalah untuk ‘meniadakan’ Pengamen Perempuan, jika ‘Menghilangkan’ Para Pengamen kedengaran terlalu berat dan sulit!

Selalu ada konsekuensi dan harga yang harus dibayar. Kadang banyak petugas-petugas berwajib melarang pengamen mencari uang di jalan, tapi tak ada solusi dari pemerintah sendiri untuk menanganinya.

Mungkin anda yang sering melihat Perempuan-perempuan Pengamen cilik dari balik kaca jendela mobil suka trenyuh dan iba. Tapi saya sendiri yang cukup sering serta membaur dengan mereka justru bisa lebih merasakan dan lebih trenyuh melihat peri-peri jalanan itu.klise27klise26

Angin malam, asap polutan, bahkan hujan deras sudah cukup akrab dengan tubuh mahluk-mahluk sesempurna mereka. Pengamen Perempuan di jalanan seperti seekor kupu-kupu di padang yang gersang. Keindahan yang tak semestinya ada dalam ke-liar-an.

Mari kita semua berpikir dan bertindak sekarang juga! PR(EMANSIPASI) ini sudah cukup lama kita lupakan.
ceko-en-bogem

20 April, 2009 - Ditulis oleh pengamencinta | TIBUM (poliTIk priBUMi) | | & Komentar

& Komentar »

  1. Ini entri yang menarik. Terima kasih sudah berbagi cerita.

    Anyways, salam kenal yah. Dan jika ingin tahu lebih banyak tentang RAHASIA CINTA, bisa cek tulisan saya yang berjudul Butir-Butir Cinta. Sampai jumpa lagi, Sobat.

    Lex dePraxis
    Romantic Renaissance

    Komentar oleh Lex dePraxis | 20 April, 2009 | Balas

  2. Thanx for your comment. oke Sob!

    Komentar oleh pengamencinta | 20 April, 2009 | Balas


Tinggalkan komentar