Pengamen Cinta Go Blog

Blognya Penulis merangkap Musisi Jalanan

Laskar Pewangi {Pake ‘W} (1)

Empat Calon Anak-anak Laskar Pewangi

Banyak kata-kata bijak yang bilang bahwa anak adalah titipan Tuhan. Kata seorang Penyair legendaris juga bilang gitu;

“Wahai Ortu (Orang Tua), Bonyok (Bokap Nyokap), Iba (Ibu-Bapak), Ubi (Umi-Abi) dan MD (Mom-Dad), your kids is not yours! Mereka cuman titipan Tuhan Brow! Ntar, kalo suatu hari mereka diambil lagi sama Tuhan… atau kalian duluan yang diambil, harus ikhlas ya, siap gak siap! So… nikmatilah saat-saat kebersama kalian. Okeh?”
Itu adalah kalimat yang udah d-itranslete dari bahasa Lebanon ke dalam bahasa Indonesia yang gaul dan funky!! Tapi, kalau anak adalah titipan, berarti orang tua adalah tempat penitipan barang, eh, penitipan anak donk? Kalo gitu, ortu sama dengan panti asuhan donk? Ah, gak penting!
Yang penting adalah; mungkin, kami berempat, anak-anak Laskar Pewangi ini, sebelum lahir ke dunia udah memiliki kesepakatan sama Tuhan melalui asistennya yaitu Malaikat.
“Kalian lihat di dunia sana?” kata Malaikat saat kami semua berada di alam lain dalam bentuk ruh. Sebuah big screen layar datar paling canggih tanpa memakai listrik di dunia lain itu memperlihatkan kisah kehidupan sepasang calon Mom dan calon Dad dalam dua frame yang berbeda.
“Gadis kampung dari Cianjur itu nanti bakal merit sama Pria Pedagang cireng yang ulet dan rajin namun berpendidikan rendah. Nah, kalian adalah empat calon anak mereka!!”
WHAT??” si Nurul terperanjat, “jadi anak seorang Tukang Cireng beristri perempuan kampung? OGAH!!” keliatan banget kalo kelak nanti dia adalah anak yang paling tinggi gengsinya.
“Itu udah ketentuan dari Tuhan. Yang gak setuju, mo nolak ataupun protes sama Takdir yang udah Tuhan tetapin, boleh tetap tinggal di sini dan gak perlu jadi manusia. Atau… jika kalian keukueh masih pengen turun ke dunia tapi tetep gak mau nurutin rencana Tuhan buat jadi anak dari orang tua yang telah dipilih, kalian boleh jadi anak hewan atau tumbuhan, yang penting kan tetap tinggal di dunia dan sama-sama mahluk hidup. Gimana? Mau? Mau? Mau? Jojing? Jojing? Jojing?” Malaikat ngasih penawaran sama Nurul.
OMG!!” Nurul begidik, “Ih, kalo jadi anak hewan atau tumbuhan kan ntar disembelih dan disayur buat dijadiin makanan manusia. Males banget! Mending jadi manusia daripada jadi makanan manusia terus jadi kotoran manusia.Hiiy… Ya udah deh, aku mo ditipin jadi bagian dari keluarga itu…” Nurul setuju dengan wajah yang gak ikhlas. Dia belum tau kalo di dunia itu ada yang namanya Kanibalisme.
“Ya udah kalo gitu, gue yang duluan turun ke rahim calon Mom gue nanti ya?” Eep udah kebelet banget pengen jadi janin dalam rahim seorang calon Mom bernama Yayah itu.
“Hey!” gue mo protes, “kenapa harus lo yang duluan? Kenapa gak gue duluan? Gue kan pengen jadi anak pertama mereka juga!”
“Gue lebih cocok jadi anak pertama. Lo keluar abis gue!!” Eep gak mo ngalah. Udah keliatan juga kan sebelum lahir kalo kelak udah jadi manusia, gue sama Kakak gue bakal sering berantem dan gak akur.
“Stop!!” Malaikat melerai pertikaian itu, “ketentuannya emang gitu Ceko. Tuhan bilang Eep harus jadi anak pertama mereka dan kamu anak kedua. Mau gak mau, suka gak suka!”
Gue merengut, “Ya udah deh… kalo emang Tuhan maunya gitu. Tapi sekadar masukan aja nich, apa enggak sebaiknya kita berempat hom pim pa dulu buat nentuin urutan lahirnya?” gue ngasih ide gokil sama Malaikat.
“Ide bagus juga tuh!” Si Eva yang dari tadi diem nyeletuk kayak yang antusias gitu, “atau kita tentuin urutannya kayak kocok arisan aja gimana?” Eva juga ngasih masukan lain sama Malaikat.
“Pake suit Jepang aja; kertas-gunting batu.” Nurul ngasih ide lain.
“ENGGAK PAKE!!!” Malaikat marah. Lingkaran di atas kepalanya hampir berubah jadi dua buah tanduk.
“Rencana Tuhan enggak ada yang pernah gagal. Semuanya sempurna. Masing-masing Mahluk udah diatur menurut rirevisi lagi. Sekarang tinggal antri aja. Cepet baris sesuai urutan dan tinggal nunggu giliran lahir ke dunia manusia. SIAAAAP GRAK!!!” Malaikat yang jadi moderator itu menyuruh kami empat bersaudara Laskar Pewangi buat antri lahir sampai saatnya tiba untuk kami masuk ke dalam tubuh seorang Pedagang Cireng bernama Eman itu untuk kemudian menjadi spermanya…
☻☻☻☻

Sebelum lahir ke dunia, Malaikat sempet ngasih petuah-petuah bahwa kami berempat tugasnya membahagiakan Bonyok, mengangkat harkat dan derajat mereka serta mesti mengharumkan nama keluarga besar keluarga kami, hingga kelak kami menjadi para prajurit yang mengharumkan nama keluarga atau bisa diebut juga sebagai Laskar Pewangi!
“Cara kalian menjalani hidup dan kepribadian masing-masing, tergantung didikan mereka dan sifat naluriah manusiawi kalian. Kalian harus mengharumkan dan mewangikan nama mereka di dunia. Jangan mencoreng nama baik keluarga. Dan yang perlu kalian ingat satu hal adalah; apa yang terjadi di sini, saat ini, begitu kalian turun ke dunia dan jadi anak manusia, kalian semua akan melupakan kejadian ini seperti dalam film Men In Black!!”
“APA?” kita semua kaget.
“Men In Black tuh apaan? Film itu apa?” Eep bertanya penasaran mewakili pertanyaan adik-adiknya.
“Nanti juga kalian akan tau sendiri!” Malaikat ngejawab simpel.
“Terus kalo kami dikasih tahu tugas dan teori-teori saat ini, apa gunanya? Kan nanti juga bakalan lupa!” gue ikut nyeletuk. Mungkin gara-gara ngomong kayak gini, setelah jadi manusia, gue jadi punya masalah dengan ingatan. Gue pelupa berat!
“…” Eva enggak ikut ngomong, tapi mengerutkan keningnya seperti mikir. Yang paling cerewet justru malah si Bungsu Nurul;
“Om Angel, nanti setelah kami turun ke dunia kami tinggal menjalaninya apa adanya aja seperti air pipis mengalir kan? So What gitu loh sama semuanya!!”
Si Nurul sotoy karena manggil Malaikat itu Oom. Padahal Malaikat bukanlah laki-laki atau perempuan seperti manusia ataupun waria (waria juga manusia kali!).
“Iya, kalian akan menjadi manusia seperti apa tergantung kalian masing-masing. Didikan orang tua, pergaulan, bimbingan para guru, kehidupan bersosialisasi dan bermasyarakat, pokoknya kelak semuanya akan kalian ketahui dengan sendirinya. Fitrah dan tugas suci kalian cuman satu; nurut sama semua perkataan orang tua, jalankan perintah dan jauhi larangan Tuhan. Intinya cuman itu. So, gak usah nanya apa-apa lagi dan… BURUAN ANTRIIIIII!!!”
Tuh kaaan? Budaya antri emang udah ada sebelum manusia ada!
“Satu pertanyaan terakhir donk?” gue ngeyel pengen nanya lagi sama Malaikat. Sebelum dilarang, gue cepet-cepet langsung nanya, “nanti setelah selesai menjalani hidup di dunia sebagai manusia, kita bakal kembali lagi ke alam ini nggak?”
“Nggak! Nanti ada Malaikat lain yang ngejemput kalian ke alam lain.” E, dia ternyata ngejawab juga. Kepaksa kayaknya.
“Oh! Bukan anda lagi yang menjemput?” Eep ikutan nanya.
“Saya bilang Malikat lain!”
“Namanya siapa?” Nurul nyeletuk lagi.
“MALAIKAT MAUT!!”





____________________________________________________________________________
Notes: Mulai dari sini gue mo posting BAB-bab selanjutnya Novel Parodi ‘Laskar Pewangi’ ini ah. Coz seenernya ni novel lagi diseleksi di salah satu Penerbit. Udah 3 bulan belum ada jawaban, jadi mending gue posting di Blog sambil nunggu keputusan naskahnya.














19 September, 2009 Ditulis oleh pengamencinta | SATPOL PP (Sastra/Pop Literatur) Pt-Pt | | Belum Ada Tanggapan