Bayangan (FF Tentang Pengamen oleh Faricha Hasan)
“Tolong, jangan berhenti. Nyanyikan saja sampai akhir!” Gadis berlesung pipit itu berkata padaku, lebih tepatnya memohon. Aku berbalik kembali dan mulai memetik gitarku. Mengulanginya dari awal, Andai milik Gigi itupun kulantunkan hingga akhir.
”Kak Awang. Boleh, kan, aku memanggilmu Kak Awang?” Tanyanya. Rasanya terdengar aneh. Namaku Awan. Kenapa ia memanggilku Awang? Tapi ternyata aku menjawabnya dengan sebuah anggukan. Ya, hanya anggukan dan membuat lesung pipitnya muncul kembali. Ia tersenyum.
Kami berada di bangku panjang taman alun-alun Kota Malang. Aroma tanah yang baru saja terguyur hujan ditambah angin sore yang berhembus perlahan terasa menambah kenyamananku duduk dan mendengar ceritanya. Sesekali di sela ceritanya, ia memandang sekawanan burung dara yang hinggap dan terbang tak jauh dari kami. Setelah itu ia melanjutkan kembali ceritanya.
”Besok aku akan datang ke sini lagi, Kak. Datanglah. Kemudian nyanyikan lagu itu untukku. Aku akan mendengarnya dari awal. Kak Awang mau, kan?” Lagi-lagi aku hanya mengangguk. Ia berdiri, tersenyum padaku, dan pergi meninggalkanku.
Itulah awal perkenalanku dengannya. Namanya Nadiya dan aku memanggilnya Nad. Gadis berlesung pipit itu baru lulus SMA dua bulan yang lalu. Dan ia bercerita bahwa saat ini ia sedang menunggu pengumuman hasil seleksi salah satu perguruan tinggi negeri di kota ini.
Tadi sore saat aku bertemu dengannya, ia sedang berada di warung bakso tempat aku biasa menyanyikan sepotong dua potong lagu bersama satu-satunya gitar yang aku miliki Ya. Aku seorang pengamen jalanan. Seorang pengamen yang berkelas, itulah yang biasa Randi katakan padaku. Meski pengamen jalanan, namun penampilanku selalu bersih dan keren. Dan lagu-lagu yang kubawakan pun seringkali lagu-lagu ciptaanku sendiri atau lagu-lagu hits milik para grup band papan atas di negeri ini. Namun entah mengapa, sore tadi, lagu jadul milik Gigi menjadi pilihanku. Hal yang tak biasa kulakukan.
”Wan, sori aku tadi gak bisa nemenin kamu jalan. Biasa tuh si Milda, minta anterin keliling!” Randi teman satu kontrakanku menghampiriku.
”Gak masalah, Ran. Tadi aku juga gak banyak keliling, kok!” Jawabku jujur. Aku memang tak banyak keliling sore tadi. Lebih tepatnya, aku hanya menyanyikan satu lagu dan sudah. Sesaat setelah Nad pergi, adzan Maghrib menggema dan itu artinya aku harus secepat mungkin kembali pulang dan mengerjakan semua tugas kuliahku.
Memang benar ku salah
Tak menghargai perasaanmu
Dan menghancurkan rasa cintamu
Aku kembali melantunkan Andai milik Gigi di depan Nad. Ia tampak begitu menikmatinya. Dan kristal bening di sudur mata itu, kulihat Nad menangis. Dengan setengah hati karena cemas terhadapnya, kuhentikan lagu itu padahal aku belum menyelesaikannya.
”Kenapa berhenti, Kak?” Tanyanya terdengar lirih di antara isak.
”Kenapa kamu nangis, Nad?” Aku balik bertanya tanpa menjawab pertanyaannya.
”Maaf, Kak.” Nad menghapus air mata yang tak bisa ditahannya dan mulai bercerita.
Armand Awang. Itulah nama kakak semata wayangnya yang tewas dalam kecelakaan tiga tahun yang lalu. Kakak satu-satunya yang ia miliki. Awang seumuran denganku dan ia hobi banget menyanyikan lagu Andai milik Gigi. Nad merasa ia yang menjadi penyebab tewasnya Awang. Melihatku, Nad merasa ia melihat bayangan Awang kakaknya.
”Kak Awang. Boleh, kan, aku memanggilmu Kak Awang?”
Sekarang aku mengerti mengapa ia memanggilku Awang.
_______________________________
Catatanku, diksinya sudah bagus, pembaca bisa dibawa terhanyut ke dalam cerita, namun ending dan konfliknya kurang kuat. Kurang greget. ^_^V
Belum ada komentar.




