Apa yang bisa kita berikan selain uang?

‘Setiap uang receh yang anda berikan pada anak jalanan akan membuat mereka semakin sengsara, sumbangkanlah dan anda pada yayasan-yayasan yang….’

Terus terang saya tidak suka melihat tulisan Plang buatan Pemerintah itu. Anjuran Pemerintah yang menurut saya ‘berat sebelah’. Bahkan plang-plang seperti ini kadang ditempatkan di lokasi-lokasi jalan yang tidak strategis! Plangnya dimana, Yayasannya dimana.

Selain itu juga, ajakan seperti itu-lah yang justru membuat anak-anak jalanan semakin sengsara. Karena ini menyangkut soal perut orang, Kawan! Kalau ada sisa sedikit uang receh untuk beli permen atau rokok, kenapa harus menunda-nunda dan ditahan-tahan untuk sebuah tujuan mulia; beramal?

Apa jika ada seorang anak kecil meminta uang receh dengan memelas, kita tak memberikannya meskipun memilikinya? Apa kita akan mencari sebuah yayasan yang menjadi perantara dengan koordinasi tak langsung hanya untuk memberikan sepeser uang yang menurut kita tak seberapa?

Jika begitu, kita telah menunda-nunda untuk berbuat baik, menghabiskan waktu untuk beramal dan menambah penderitaan anak-anak jalanan.

Tapi… saya juga mengerti. Saya mencoba untuk melihat fenomena ini sebagai sebuah koin dua sisi mata uang. Sebuah dilema yang setelah saya survey sendiri, kebanyakan memiliki alasan umum yang sama. Banyak yang berpikir seperti ini sesaat sebelum memberikan sepeser uang receh pada anak jalanan atau pengamen;

Dilema: Kasih jangan ya? Kalau dikasih sekali-dua kali sih tidak masalah, tapi kalau terus-terusan setiap hari, nanti keenakan dan jadi bosan sendiri.

Solusi: Jika kita memang setiap hari melewati sebuah jalan, perempatan, stopan yang memungkinkan kita bertemu mereka setiap hari, solusinya mudah saja.; Beri saja mereka nominal uang receh terkecil (yang masih berlaku tentunya) dan (yang paling penting) saat kita ikhlas memberikannya tanpa harus berpikir dua kali terlebih dulu!

Kalau kita memiliki uang receh dan berpikir dua kali gara-gara melihat Plang, slogan, anjuran atau apapun itu seperti kasus yang disebutkan di atas dan berada dalam keputusan ‘kasih-jangan-kasih-jangan’ mungkin solusi yang paling tepat adalah melakukan kedua hal tersebut; memberikan receh yang kita punya juga menyumbang ke Yayasan dengan nominal yang lebih besar.

Apa yang kita bisa berikan selain uang untuk membantu mengurangi beban hidup anak-anak jalanan? Banyak sekali. Banyak hal yang bisa kita sumbangkan untuk anak-anak jalanan dan para pengamen. Bahkan yang kita sumbangkan (selain uang dan materi) justru malah bisa jadi ‘mengangkat’ nasib mereka kea rah yang lebih baik hingga mereka tidak lagi menjadi Pengamen, peminta-minta atau ‘Profesi’ lain yang biasa dilakukan oleh orang-orang jalanan. Uang bukanlah satu-satunya alat dan alasan untuk kita bisa berbuat baik.
Ada orang-orang bahkan teman saya sendiri yang berasal dari kalangan menengah ke atas yang memiliki alasan tertentu tidak mau memberikan sedikitpun uang receh pada Pengamen atau anak-anak jalanan. Alasannya adalah; Takut mereka (para pengamen dan anak-anak jalanan itu) menggunakannya untuk hal-hal yang tidak baik seperti membeli minuman beralkohol untuk mabuk-mabukan.
Kekhawatiran semacam itu wajar saja, karena memang masih ada dan banyak anak-anak jalanan yang memiliki uang sisa untuk membeli minuman keras. Tapi tentu saja yang paling utama dan didahulukan, mereka mencari uang untuk makan dulu, bukan mabuk dulu. Sedangkan kita tidak tahu apa uang recehan yang akan kita berikan itu untuk dipakai makan atau mabuk. Maka dari itu, ada hal, materi dan non materil lain yang bisa kita berikan selain uang. Seperti di bawah ini;

1. Makanan
Tidak salah lagi, apa yang dilakukan orang-orang jalanan dan para pengamen ujung
ujungnya bukan duit, tapi makan! Uang yang didapatkan adalah untuk mencari makan, membeli beras dan sisanya dibelikan untuk hal-hal lainnya seperti; membayar hutang, beli pakaian, bayar kontrakan, mencari tempat tinggal atau kalau ada sisa sedikit untuk ditabung. Intinya sama seperti tujuan kita semua; untuk tetap bisa bertahan hidup! Hanya saja, cara, jalan, nasib yang mereka tempuh tak semudah orang kebanyakan. Banyak sekali para dermawan dari orang-orang kaya secara individu ataupun suatu komunitas tertentu seperti Yayasan, Pesantren ataupun Sekolahan yang kadang datang ke pinggir jalan dan membagikan nasi bungkus, mie instant, catering sisa dari suatu acara dan lain-lain. Itu cukup membantu dan bermanfaat sekali untuk menahan rasa lapar mereka hingga menghemat uang makannya. Bahkan saya yakin, takan ada yang menolak jika kita memberikan cemilan sisa ngemil kita yang ada di dashboard mobil misalnya, mereka pasti cukup senang dan akan menerimanya selama makanan itu masih layak dimakan! Karena bukannya tidak ada yang menyumbang makanan sisa seperti nasi basi. Saya sendiri beberapa kali bersama teman-temen Pengamen pernah mengalaminya; diberi nasi basi dan bau tengik, sisa makanan yang sudah kadaluarsa. Namun yang saya rasa paling praktis dan efektif bagi mereka adalah makanan berupa mie instant yang bisa dijadikan sumber energi 2 bungkus / orang / hari. Tentu tak ada paksaan dan aturan harus memberi mie instant 2 bungkus pada setiap anak-anak jalanan. Hal itu bisa dilakukan jika kita memiliki rezeki lebih dan ingin membantu sesama dengan makanan yang kita bisa praktis dan tidak ribet membeli dan memberinkannya..
2. Pakaian bekas
Ada beberapa fakta yang mungkin sudah menjadi rahasia umum. Namun, sebagai
informasi yang cukup peerlu untuk diketahui dan mungkin ada orang-orang yang belum tahu, atau tahu tapi tak begitu menganggapnya penting, saya akan memaparkan beberapa fakta yang sering saya saksikan sendiri di depan mata saya.
– Ada banyak anak-anak jalanan yang memakai baju, celana dan sepatu yang itu-itu terus selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Itu-lah yang membuat mereka terlihat kucel, dekil, kotor dan bau meskipun sering mandi.
– Kebanyakan dari teman-teman Pengamen yang memakai kaos kaki dan sepatu (kecuali yang memakai sandal), tak pernah diganti dan jarang dicuci hingga ketika mereka membuka sepatu dan kaos kakinya itu, bau kaki yang menyengat itu langsung tercium dan menyebar kemana-mana
– Efek samping dari baju dan celana dekil yang itu-itu terus dipakai kapan saja saat sedang apa saja itu membuat badan, kulit tangan dan kaki gatal-gatal hingga tak heran jika mereka sering garuk-garuk meskipun tak digigit nyamuk.
Dan hal yang menyebabkan itu semua adalah karena mereka tak memiliki banyak
Pakaian seperti kita yang (kebanyakan) memiliki minimal dua stel baju yang dipakai dan diganti setiap harinya. Sedangkan mereka hanya memiliki beberapa lembar pakaian, celana dan pakaian dalam dan tak sebanyak yang orang-orang biasa punya. Maka, baju atau celana seragam sekolah bekas yang tidak terpakai lagi atau pakaian bekas yang kita punya namun tak cukup lagi dan muat di badan kita, lebih baik disumbangkan untuk anak-anak dan orang-orang jalanan. Jika tahu ada Yayasan yang mengurusnya, boleh disumbangkan melalui Yayasan tersebut, namun jika tidak tahu kemana harus menyumbangkannya langsung saja turun ke jalanan dan mencari orang-orang yang memang patut menerimanya dan tentu harus memperkirakan dengan yang sesuai dengan ukuran badannya. Kalau tidak tahu Yayasan dan mungkin tidak pernah atau jarang menemui anak-anak jalanan (meskipun sepertinya tidak mungkin), khusus daerah PASTEUR-Bandung, saya bisa menjadi perantara langsung antar Penyumbang dan yang disumbang sehingga yang disumbangkan antara keduanya bisa tepat sasaran.
3. Pelajaran Moral dan Agama
Jangan heran jika bahasa, tingkah laku, tabiat, pergaulan dan sopan-santun serta tata
karma anak-anak jalanan berbeda dengan orang-orang kebanyakan dan berpendidikan atau yang terpelajar. Maka sudah sepantasnya kita menyindir orang-orang berpendidikan dan terpelajar sebagai ‘anak jalanan liar’ jika mereka berkata-kata kasar yang tak patut diucapkan. Berikut beberapa faktanyanya yang saya lihat, rasakan dan alami sendiri ketika bergaul dengan mereka;
– Kata-kata kasar seperti ‘Si kaki empat’ atau bahasa daerah yang kasar selalu keluar setiap mereka mau berbicara apa saja, dimana saja kapan saja dan dengan siapa saja.
– Banyaknya anak-anak kecil yang tak bisa beradaptasi dan menempatkan diri ketika mereka sedang berbicara dengan sesorang yang lebih tua usianya. Faktor utamanya karena kualitas didikan orang tua, dan tak pedulinya anak-anak (pemuda-pemudinya) jika ada anak-anak kecil berbicara dengan mereka. Bahasa dan kata-kata kasar yang diucapkan anak-anak kecil pada teman seusianya disamakan dengan saat berbicara pada yang lebih tua. Contohnya seperti menyebut nama tanpa kata sandang Kakak Teteh atau Aa jika dalam bahasa Sunda.
– ‘Kurangnya pendidikan Agama, hingga banyak yang ‘tidak mengenal Tuhan’. Jadi jangan terlalu heran jika banyak yang tidak suka sembahyang atau membaca Kitab Suci karena pendidikan agama yang bisa didapatkan dari sekolah tidak bisa diperoleh karena tak bersekolah atau jauh dari orang-orang yang agamis. Namun kurangnya perhatian dari orang tua dan lingkungan sekitarnya sendiri-lah yang berpengaruh. Mungkin prinsipnya seperti ini; Dunia nomor satu, akhirat nomor dua. Juga hal lain yang menyebabkan mereka banyak yang tidak sembahyang selain minimnya pendidikan agama adalah pakaian yang kotor, yang dipakainya untuk sembahayang sama dengan yang dipakainya saat mencari uang di jalan hingga mereka ‘minder sama Tuhan’.
Memberikan mereka pendidikan moral dan agama memang cukup sulit jika kita terlalu sibuk bekerja dan tak memiliki waktu untuk menjadi guru Agama. Namun hal yang paling kecil dan sepele pun bisa kita lakukan seperti saat bertemu mereka, ketika kita memberi mereka uang atau tidak, memberi makanan atau tidak, kita bisa mengajaknya berkomunikasi, memberi mereka Buku-buku agama. Meskipun jika yang kita beri tak bisa membaca, kita suruh ia berikan dan minta diajarkan pada orang tuanya atau orang yang lebih tua untuk mengajarkannya.
4. Informasi
Kita mungkin tak memiliki kapasitas untuk memberi mereka pekerjaan yang lebih
Baik, tapi mungkin kita memiliki info lowongan kerja dari teman atau saudara yang mau menerima pekerja berpendidikan rendah ataupun yang tak berpendidikan. Mungkin biasanya pekerjaan yang lebih mengandalkan otot seperti kuli bangunan, kuli panggul dan sejenisnya.
5. Ilmu
Ilmu bisnis atau berdagang atau membuat sebuah seni rupa atau ilmu apapun yang
bisa menghasilkan uang. Ilmu tersebut baik yang kita punya atau yang kita dapatkan dari buku dan dari orang atau media lain, tak ada salahnya kita berikan dan tawarkan selama hal itu realistis untuk dikerjakan. Namun berbicara tentang ilmu yang, banyak sekali cabang ilmu yang kita miliki dan bisa kita berikan. Namun Ilmu yang paling penting dari semua itu adalah ilmu baca tulis dan menghitung.
Ada beberapa sekolah mandiri yang dikhususkan untuk anak-anak yang berasal dari keluarga tidak mampu. Jika kita berniat menjadi guru sukarelawan, kita bisa menawarkan diri bergabung dengan sekolah independent yang dari fasilitas, sarana dan prasarana yang seadanya. Yng penting niat kita tulus, untuk mengajarkan dan membagikan ilmu yang bermanfaat yang kita bisa. Jika memungkinkan, kita bisa mencontoh membuat sekolah sendiri. Tapi harus diperhitungkan juga; tempat strategis, jumlah anak didik, fasilitas, alat tulis dsb. Maka, jika tidak bisa melakukan semuanya, kita bisa memilih salah satu di antaranya; mencarikan atau memberikan tempat belajar, mengatur dan memanag anak didik, memberi buku-buku pelajaran bekas atau memberi alat tulis. Yang penting, kita bisa memberikan ilmu yang sekiranya bermanfaat bagi mereka. Dan itu mungkin lebih berharga dari sekadar memberikan uang yang tak seberapa. Realistis kan; Memberi ilmu tentang cara mendapatkan uang lebih sangat berharga dari sekadar memberi uang secara cuma-cuma
6. Interaksi, komunikasi dan berbaur bersama mereka
Jika ada tokoh pahlawan anak-anak jalanan selain para dermawan, maka saya akan
memberikan nama pahlawan itu dengan sebutan ‘Super Supel’. Ya, uang yang kita berikan dengan mimik muka seperti tidak rela atau merasa terganggu ketika di sekitar lampu stopan, adalah tidak lebih baik dari tidak memberi mereka apa-apa namun kita mengobrol dan berinteraksi dengannya. Misal;
“Aduh Dek, maaf gak punya receh…” dengan senyum atau menyilangkan kedua tangan seperti meminta maaf.
“Hai, gimana hari ini udah dapat banyak? Biasanya pulang jam berapa?”
“Saya gak punya uang, tapi pengen kamu tetp nyanyi sedikit aja lagu yang saya minta. Nanti kalu ketemu lagi saya kasih dobel, gimana?”
“Wah, main gitarnya jago. Belajarnya berapa lama? Suka aliran musik apa?”
Kata-kata yang terdengar basa-basi seperti itu lebih menyatukan kita dan menghilangkan batas yang menjadi penghalang seperti status kaya-miskin. Tapi jangan terlalu lama mengajak mereka ngobrol jika tidak memberi apa-apa. Kecuali kita orang yang pandai menghibur dan bisa membuat mereka tertawa. Minimal tersenyum-lah
7. Solusi
Saya tidak tahu apa tulisan saya itu dipandang sebagai sebuah artikel yang Subjektif
atau Objektif. Karena terus terang saya sendiri bingung, saya bisa disebut Pemerhati Sosial sekaligus Objek Pemerhati sosial itu sendiri. Saya hanya ingin mencoba mengeluarkan isi kepala saya yang ada di hati saya. Tapi jika memang anda memiliki solusi yang lebih baik untuk dapat mengurangi angka kemiskinan, dalam hal ini, jumlah anak-anak jalanan dan para Pengamen, hal itu juga sudah merupakan itikad baik, sebuah Ibadah yang semoga akan dicatat dan dibalas oleh Yang Di Atas. Berpikir, mencari solusinya dan bertindak. Salah satu contoh kecilnya ya seperti ini; Menulis di Blog dan sharing bersama bloger-bloger lain.

Iklan

15 comments on “Apa yang bisa kita berikan selain uang?

  1. kalo kita ngasih tuh yang ada jadinya musiman, pada saat2 tertentu jadi rame pengemis, terus jadinya pada ikut2an melihat jadi pengemis pasti dapet uang.

    yang paling utama harus kita berikan kepada mereka adalah semangat, jangan rasa kasiah lalu kita memberikan materi begitu saja. ikhlas sih ikhlas, tapi ada jalan lain seperti yang anda berikan di atas, yaitu ilmu atau pendidikan.

    salam kenal, dan thx..

    • Pernah membayangkan, dalam satu minggu, ah, jangan, satu hari saja misalkan, kta semua kompakan gak ngasih seperspun, ya, sepeserpun receh pada para pengamen atau anak jalanan yang kita temui. Saya berani menjamin;
      1. Tingkat kriminalitas meningkat!
      2. Tingkat kemiskinan semakin tinggi
      3. angka kematian akan bertambah

      memang sudah menjadi rahasia umum, ‘Memebri atau jangan’ pada para Pengamen sudah menjadi dilema yang terus menerus tak terselesaikan selama belasan atau puluhan tahun. Gak ngasih kasihan, ngasih takut keenakan. Maka, jawabannya adalah blog saya yang anda komentari itu; Kita bisa memberi sesuatu selain dalam bentuk uang. terutama; Pekerjaan!

  2. Perlu ada riset baru soal pengamen di desa, yang saya tahu beberapa pengamen itu ngamen dari pagi sampai petang door to door, kalau dikasih uang kecil ngedumel, kadang mengumpat. Kalau ndak dikasih marah-marah. Padahal bila malam tiba mereka asyik mabok….?
    Saya jadi tidak bisa membedakan mana yang butuh makan dan mana yang pemalas.

  3. Thanks atas bacaan ini…bisa jadi intropeksi buat aku pribadi.

    saat aku memberi…aku akan ingin berpikir positif…uang itu untuk makan titik

    dikita, uang receh tak seberapa…andai mereka mau menggunakan kehal yang lain, itu urusan mereka, setidaknya tugas kita membantu sudah kita lakukan.

    Bukalah jendela hati kita, untuk menilai orang dengan jiwa kasih, bukan dengan kebimbangan dan keraguan.

    Jujur, siapa sih manusia yang ingin orang lain curiga ?
    mereka juga sama, belajar untuk percaya dengan mereka!

    salam hangat persahabatan dariku! 🙂

  4. Masalahnya sekarang banyak pengemis atau penyari sumbangan yang palsu. Mereka mengatasnamakan pengemis, anak2 jalanan, fakir miskin, panti asuhan, bahkan Agama untuk kepentinagn pribadi.

  5. @ RCO; kalo mo ngasih itu syaratnya cuman satu koq RCO; ikhlas! Yang penting niat kita tulus, sesuai dengan kata hati. Ada baiknya saat mo ngasih diajak ngobrol dulu sebentar biar kesenjangan sosialnya berkurang. Dari omongan dan tingkah laku lawan bicara mungkin bisa kelihatan mana yang butuh makan dan mana yang pemalas. seperti yang saya utarakan di atas, kalo takut uang yang kita kasih dipake mabok, mending kasih makanan aja atau pakaian bekas layak pakai, buku, atau apa saja sesuatu yang bermanfaat selaian dalam bentuk uang.

    @ Kweklina:Ucapan Kweklina adalah jawaban pertanyaan RCO yang senada dengan pemikiran saya. Kalo mo ngasih, kita gak perlu berpikir apa yang kita kasih itu mo dipake buat apa? thinking Positif, dan komunikatif serta interaktif dengan mereka. Kadang, saya dan temen-temen ngamen, meski gak dikasih uang, tapi diajak ngobrol doank dengan asyik, santai dan hangat aja udah bikin kita seneng. beneran. Kata-kata seperti; ‘wah, main gitarnya jago ya? Ih, suaranya bagus! atau; udah berapa lama ngamen? Kenapa ngamen? Rikues lagu yang lain donk, tar baru aku kasih’. Ucapan-ucapan seperti itu, sapaan hangat yang akrab bisa mengganti sesuatu yang lebih dari sekadar uang receh loh.

    @ Method Panda: terima kasih kembali atas comennya. Saya senang dikomentarin yang bagus-bagus. haha… Salam semangat juga ya…!!

    • ada beberapa temen pengamen jalanan yang saya ajarin ngeblog dan bikin email atau buat acount di FS. Tujuan mereka kebanyakan; iseng (kalo punya pendapatan lebih, cari kenalan cewek dan cari info lowongan pekerjaan). saya dari dulu sempet kepikiran itu. bikin komunitas Pengamen Gaul yang melek Internet. hehe…

  6. Met pagi en lam kenal sebelumnya. Sebenarnya masalah kemiskinan telah menjadi “PR” pemerintah yang dari dulu belum bisa terpecahkan. Ngga tahu kenapa padahal tiap tahunnya pemerintah selalu menganggarkan dana untuk mengentaskan kemiskinan dengan berbagai macam program dan kegiatan yang terkadang tidak jelas raib kemana dananya. Intinya sekarang ini di Indonesia banyak pejabat-pejabat yang egois dan hanya memikirkan kekayaan sendiri dengan memakan dana-dana yang sebenarnya diperuntukkan bagi orang-orang miskin.

  7. ya ok terima kasih atas sarannya saya kira itu tergantung individunya dan tergantung keadaanya kalau memang uang yang kita punya lebih apa salahnya jika kita berikan pada mereka…

  8. yang penting kita memberi dengan ikhlas dan jangan sampai salah sasaran, kit aberikan kepada pengemis yang memang sudah tua dan memang tidak berdaya, bukan yang masih muda2 ato yayasan yang tidak jelas…:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s