(Proses Kreatif) Dari Ide Menjadi Tayangan

Tak terasa tiga tahun saya bekerja di Trans TV sebagai broadcaster, menjabat Script Editor untuk Divisi Film, Drama & Sport. Saya merasa tak ada lulusan SMA seberuntung saya yang bisa bekerja di balik layar bersama orang-orang hebat. Bukan hanya soal bertemu artis besar, namun orang-orang hebat yang mungkin tak pernah dikenal orang awam. Menjadi bagian dari program Komedi Sketsa dengan ide-ide gilanya yang absurd dan bertemu Tim brainstoker dan penulis-penulis bodor dari Bandung. Mengawali karir menulis skenario ketika program Oh Ternyata bergenre komedi harus berubah format menjadi omnibus horor yang menjadi trend setter serial horor tv yang bertahan lebih dari tiga tahun. Bekerja bersama Aris Nugraha di program Sitkom  “Kontrakan Tiga Pintu”, sutradara Bajaj Bajuri yang sekarang lebih dikenal sebagai Sutradara dan Konseptor Preman Pensiun. Masuk ke dalam tim solid pada program Gameshow Slideshow dan hampir tiap hari bertemu trio Raffi-Denny-Wendy dan pernah pula menjadi supervisi naskah untuk program Drama Kisah-Kisah Kehidupan. Masih banyak lagi pengalaman yang saya dapatkan selama bekerja di sini yang akan sangat panjang jika diceritakan.

Setengah tahun terakhir ini, saya selalu berduet dengan Bang Oding Siregar. Seorang yang multitalenta.Produser, Director dan juga Aktor Komedi icon Sketsa Trans TV. Dengan ayahnya Ojan ini, saya semakin terpacu membuat ide dan cerita komedi pendek dalam program Bro & Bray. Sempat pula mengonsep program Komedi Realigi Manusia Setengah Insyaf yang tayang bulan Ramadhan 2015, dan saat ini kami sedang membuat pilot sitkom baru yang salah satu Karakternya        diperankan oleh Tio Pakusadewo.

Tak mungkin ada penulis skenario yang tak bangga ketika skenarionya dieksekusi dan diperankan oleh salah seorang aktor besar. Namun sekali lagi, itu hanyalah salah satu kebanggaan yang akan segera menjadi biasa. Kebanggan yang utama adalah ketika sebuah ide muncul, baik yang dicetuskan oleh sendiri ataupun hasil diskusi, proses menuju eksekusi (dalam hal ini shooting) akan lumayan panjang. Setelah sebuah ide program sitkom hasil diskusi dengan Bang Oding ini, pertama harus dipresentasikan pada Executive Produser (EP). Sebenarnya harusnya ke produser dulu, tapi karena Bang Oding produsernya, maka saya langsung present ke EP. Sebelum present, tentu kita harus mempersiapkan konsep itu dengan matang. Dalam sitkom itu, ada karakter siapa saja, setting lokasinya dimana, durasi berapa menit, memakai kamera apa, (single atau multicam) dan untuk ditayangkan di slot mana (jam dan harinya) kemudian target penontonnya juga. Tak lupa setiap karakter harus dibahas lebih detail, dari umur, tingkat sosial dan rekomendasi artis yang cocok untuk memerankan karakter yang telah kita buat. Semuanya dibuat dalam bentuk power point. Hard copy atau soft copy.

Jika EP sudah setuju dan tertarik dengan ide program yang kita ajukan,  selanjutnya masih ada Kadiv (Kepala Divisi) yang harus dihadapi. Materi presentasi saya bawa, meskipun ide program itu dipresentasikan produser secara lisan, maka bagian saya hanyalah membantu menjelaskan garis besar cerita dan karakter juga beberapa sinopsis cerita yang siap dijadikan skenario. Alhamdulillah, Kepala Divisi kami setuju dan suka dengan ide program sitkom baru kami ini. Tapi tak berhenti sampai di situ.

Kadiv dan EP kami memerintahkan untuk segera menindaklanjuti ide program ini. Di sinilah letak perjuangan beratnya. Beban bukan hanya ditanggung berdua sebagai konseptor, namun menjadi tanggungan tim, dari Production Assistance yang akan mengurusi soal teknis dan creative serta Casting director yang akan mencari talent / artis yang sudah direkomendasikan pada Production Book (powerpoint tadi). Waktu untuk mewujudkan semuanya menjadi sebuah dummy / contoh tayangan tak akan tentu. Ini sangat bergantung pada usaha dan kerja keras satu tim. Dimana produser saya berusaha membuat budget dan mengajukannya, Rekan creative dan casting director saya bersusah payah mengcasting artis-artis yang sesuai karakter,dan saya sendiri berusaha semaksimal mungkin membuat skenario pilot yang wajib lucu, karena program ini Sitkom.

Ada kalanya ketika saya dan Vito, Production Assistan, rekan saya bertugas menyurvey banyak tempat untuk lokasi shooting yang cocok namun tak diapprove oleh atasan karena beberapa tempat hasil survey tak sesuai dengan ekspektasi, adajuga rekan Creative saya yang hasil castingnya ditolak juga karena artis yang diajukan tidak cocok dengan atasan kami. Dan kalau kami mudah kesal atau tak semangat, maka tak akan pernah ada hasil. Namun, semangat dan kerja sama tim telah membuat semua pekerjaan menjadi mudah. Saya harus merevisi skenario hingga lebih dari lima kali, rekan creative saya telah mendatangkan artis papan atas ataupun artis baru dan ditolak berkali-kali juga, produser saya deg-degan menunggu budget yang tak kunjung diacc, dan lokasi yang pas, dealingnya sangat alot hingga H-1 shooting.

Tim ini juga bukan apa-apa kalau tak disupprot oleh bagian-bagian lain. Unit Production Manager harus berusaha keras deal-dealan mengenai budget lokasi, Unit Talent mengeluarkan segenap kemampuannya agar si artis menerima tawaran pekerjaan ini dan DOP, Art, Campers (Camera Person), Security, PU semua yang terlibat dari pra produksi hingga pasca produksi (editing) tak ada seorang pun yang tak penting. Bahkan, yang bukan bagian dari tim kami pun ikut membantu menjadi Talent Second Line dengan kemampuan akting pas-pasan (salah satunya, saya pun ikut berperan menjadi pembeli bakso :P).

Akting pas-pasan

Sampai saat saya menulis ini, saya sudah cukup puas meski hasil shooting Pilot program ini belum finish dan dipreview bos-bos kami. Di sini, ide memang mahal namun bisa dibeli (karena akan ada kompensasi uang untuk ide program yang diapprove langsung oleh owner kami), tapi yang lebih penting dari itu adalah: tak ada ide milik sendiri yang bisa jadi hanya oleh sendiri. Kerja di industri creative sangat membutuhkan teamwok.

Satu lagi, di dunia tv, kita sangat perlu membuat sesuatu yang tak biasa, minimal untuk kebanggan diri sendiri. Siapa tak bangga jika seorang artis sebesar Om Tio berkata, “Saya mau menerima tawarannya, karena saya tertarik dengan skenarionya.”

Segala kritikan dalam proses membuat ide bahkan teguran dan komplain sehingga saya harus merevisi berkali-kali skenario itu menjadi sebuah perjuangan yang tak sia-sia, karena bonus berupa pujian om Tio Pakusadewo, menjadi penyemangat saya agar terus membuat skenario bagus dan lucu, dengan standar yang tanpa sadar telah saya tentukan sendiri.

Kerja keras ini belum berakhir, bahkan baru dimulai. Masih akan ada beberapa meeting lagi. Karena agar nantinya menjadi tayangan yang bisa dinikmati penonton, dummy / pilot kami harus diacc dulu dalam meeting bos-bos besar lalu ditentukan slotnya. Setelah nanti (jika akhirnya) tayang dan slot sudah ditentukan, maka rating/share akan menunjukkan disukai-tidaknya tayangan itu oleh penonton dan akan berapa lamakah program ini akan bertahan.

Di situlah perjuangan sesungguhnya.

with Om Tio

Iklan

4 thoughts on “(Proses Kreatif) Dari Ide Menjadi Tayangan

    1. Santa panting ceritanya. Intinya saya menulis blog, dari blog jadi penulis buks dan serial di majalah, melamar ke Trans TV degna modal nekad (ijazah SMA) dan akhirnya diterima. Begitu singkatnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s